Di sebuah rumah berukuran 5×4 meter di kawasan Kilometer 8 Rumbai Barat, Litawati dan keluarganya kini berteduh dari panas siang dan dingin malam. Rumah sempit itu bukan miliknya, melainkan rumah mamaknya, tempat ia menumpang hidup bersama suami dan empat anak setelah rumah mereka digusur demi pembangunan Jalan Tol Pekanbaru–Rengat.
Penggusuran itu terjadi awal Desember lalu. Rumah Litawati yang berdiri di atas lahan 8×12 meter di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Muara Fajar Timur, rata dengan tanah setelah dieksekusi aparat. Sejak saat itu, hidup keluarga kecil ini berubah drastis, bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga rasa aman.
“Sekarang kami berenam tinggal di rumah 5×4 meter, Pak. Tingginya cuma dua setengah meter, panas. Anak-anak tidur semua di situ. Kamar mandi pun numpang. Siapa yang tak stres,” ujar Litawati kepada GoRiau.com, Rabu (24/12/2025).
Litawati mengaku penghasilan keluarga sangat terbatas. Suaminya hanya bekerja sebagai penjaga malam dengan gaji sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Di tengah kondisi itu, kebutuhan pendidikan anak-anak tetap berjalan. Anak sulungnya hendak melanjutkan sekolah, sementara anak keempatnya, Naura, baru berusia tujuh tahun dan duduk di bangku sekolah dasar.
Ia menolak tawaran “sagu hati” Rp 30 juta yang disebut-sebut diberikan kepada enam keluarga terdampak. Meski uang itu sangat ia butuhkan, terutama untuk membeli laptop keperluan sekolah anaknya, Litawati memilih bertahan.
“Saya butuh uang, Pak. Laptop anak saya beli dari utang karena dia mau ujian. Tapi uang itu bukan hak kami. Kami tidak mau,” katanya lirih.
Trauma tak hanya dialami orang dewasa. Naura, anak keempat Litawati, berada di rumah saat alat berat membongkar bangunan. Tangis dan ketakutan masih membekas. Cita-citanya menjadi polisi kini bercampur rasa takut melihat seragam dan aparat.





