Tuah Sejawat.com- PEKANBARU — Euforia Festival Ketan Talam Durian sepanjang 1,1 kilometer yang sukses pecah rekor MURI hari Minggu kemarin ternyata menyisakan plot twist, guys. Di balik sertifikat penghargaan yang diterima Pemko Pekanbaru, media sosial justru ramai sama keluhan netizen. Banyak warga yang sad vibes karena gak kebagian makanan gratis, terjebak macet parah, sampai beredar video kerumunan massa yang desak-desakan dan bikin nyesek.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, sampai angkat bicara dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Beliau nge-spill kalau panitia awalnya cuma memprediksi sekitar 5.000 sampai 10.000 pengunjung. Tapi kenyataannya? Yang dateng membeludak sampai 80.000 orang lebih! Overcapacity parah!
Nah, karena Pemko Pekanbaru udah berencana mau bikin next project yaitu “Festival Pisang Goreng Kipas Terbesar di Dunia” pada Agustus mendatang, sejumlah pengamat langsung ngasih warning keras biar kejadian kemarin nggak terulang lagi.
Warga Jangan Dikambinghitamkan, Manajemen Crowd-nya yang Kurang Prepare
Praktisi hukum dari MS Law Firm, Mirwansyah, menilai kalau aksi warga yang nekat mengambil kue sebelum acara dimulai itu nggak bisa sepenuhnya disalahin ke masyarakat. Menurutnya, pihak penyelenggara punya tanggung jawab utama buat memastikan security system dan pengaturan massa berjalan profesional.
“Fakta bahwa masyarakat dapat dengan mudah memasuki area utama dan mengambil makanan sebelum waktu yang telah ditentukan menunjukkan adanya kelemahan dalam perencanaan dan pengendalian kegiatan,” ujar Mirwansyah, Senin (22/6/2026).
Secara teori event management, suksesnya acara publik itu gak cuma diukur dari megahnya konsep atau besarnya anggaran, tapi gimana panitia bisa handling risk dari kerumunan massa. Kalau promosi udah digoreng besar-besaran di medsos dan bikin warga FOMO, ya sistem pengamanan di lapangan juga harus next level.
Bikin Event Makanan Gratis Harus Matang Konsep, Bukan Sekadar Seremonial
Akademisi dan praktisi budaya, Deni Afriadi, juga ikut memberikan critical thinking-nya. Beliau setuju kalau tujuan festival ini sebenarnya green flag banget buat mengenalkan kuliner lokal Melayu. Tapi, panitia harusnya paham psikologi massa kalau mendengar kata “makanan gratis”.
“Membuat event dengan tema makanan harus matang secara konsep dan manajemen. Kita tidak bisa memungkiri budaya masyarakat kita masih antusias tinggi mendengar namanya makanan dan gratis,” kata Deni.
Banyak warga datang dengan ekspektasi tinggi bakal makan bareng dengan tertib ala tradisi lokal, tapi realitanya di lapangan malah chaos. Ingat guys, dalam visitor experience, kepuasan publik itu nomor satu. Rekor dunia bakal kerasa kurang bermakna kalau warga pulangnya malah bawa pengalaman bad vibes karena kejebak macet atau kegerahan di tengah kerumunan.
So, rencana Festival Pisang Goreng Kipas nanti wajib banget jadi momen evaluasi total. Mulai dari memperketat crowd management, memperjelas alur distribusi makanan, nambah personel, sampai nyiapin plan B kalau pengunjung kembali membeludak. Jangan sampai pesta rakyat yang tujuannya bikin happy malah berubah jadi ajang adu mekanik antar-warga ya! standard





