RIP Batin Tenayan: Wafat di Umur 101 Tahun, Perjuangan Tanah Adat Warisan Kesultanan Siak Gas Pol Terus!

Tuah Sejawat.com- PEKANBARUSad news dari bumi Melayu. Air mata masih mengalir buat nemenin kepergian Batin Tenayan, Datuk HM Siin Bin Datuk H Banjar, yang wafat di umur 101 tahun, Jumat lalu. Rest in peace, Tok! 🕊️

Bagi masyarakat adat, kehilangan beliau itu bukan cuma kehilangan leader, tapi juga kehilangan saksi hidup paling legit dari sejarah panjang tanah ulayat di Tenayan. Beliau ini bener-bener penjaga marwah adat selama puluhan tahun.

Bacaan Lainnya

Tapi, duka ini nggak bikin semangat anak kemenakan Batin Tenayan jadi ikutan down. Malah di tengah suasana berkabung, mereka makin fire up buat lanjutin perjuangan demi ngedapetin kembali hak tanah adat mereka, yang diyakini merupakan warisan legacy dari Kesultanan Siak. The fight must go on! 🔥

🏛️ Spill over ke DPRD: Negara Harus Hadir!

Harapan anak kemenakan ini langsung dapet attention di rapat perdana pembahasan Ranperda (Rancangan Peraturan Daerah) tentang Tanah Ulayat di DPRD Riau.

Ayat Cahyadi, anggota Pansus Ranperda Tanah Ulayat, ngasih ucapan duka sekaligus negesin kalau negara emang kudu support dan ngasih kepastian hukum buat masyarakat adat.

“Pertama, kami turut berduka atas wafatnya Batin Tenayan yang meninggal pada usia 101 tahun. Namun semangat mereka agar hak-hak anak kemenakan Batin Tenayan bisa diperoleh kembali tetap harus didukung,” kata Ayat, Senin (6/7/2026), abis kelar rapat.

📜 Bukan Cuma Soal Lahan, Ini Soal History & Legacy

Menurut Pak Ayat, perjuangan masyarakat adat Tenayan ini bukan sekadar clout soal kepemilikan lahan doang. Di balik demand itu, ada sejarah deep tentang tanah yang diyakini sebagai anugerah dari Kesultanan Siak buat leluhur mereka. Sayangnya, warisan ini pelan-pelan mulai pudar gara-gara perubahan zaman dan alih fungsi lahan (red flag banget sih).

  • Wilayah Daratan Riau: Kampar, Rokan Hulu, Kuantan Singingi.

  • Wilayah Pesisir & History Siak: Pekanbaru, Tenayan, Bengkalis, Siak, sampai Dumai.

“Ini semua sejarahnya relate banget sama Kesultanan Siak. Makanya, hal ini wajib disikapi dalam penyusunan regulasi,” tambahnya.

Sekarang, proses mapping alias pendataan luas wilayah adat Batin Tenayan masih terus di-progress. Tapi fact-nya, sebagian besar kawasan yang dulunya tanah ulayat sekarang udah berubah fungsi dan dikuasai pihak lain. Plot twist yang bikin sedih, sih.

“Menurut mereka, kawasan Tenayan itu punya mereka. Tapi sekarang udah banyak berubah fungsi. Yang mereka tuntut itu hak asli yang dulu dikasih sama Kesultanan Siak,” jelas Ayat.

✨ Plot Twist Positif: Ranperda Jadi Game Changer

Ranperda Tanah Ulayat ini diharapkan bisa jadi game changer alias titik balik buat nyelesaiin konflik agraria di Riau. Regulasi ini tujuannya nggak cuma buat legalitas hukum biar clear, tapi juga bentuk respect tertinggi buat sejarah, identitas, dan hak masyarakat adat yang udah diwarisin turun-temurun.

Kepergian Batin Tenayan emang jadi akhir dari satu era. Tapi vibes perjuangannya dipastikan bakal tetep hidup di jiwa anak kemenakannya. Karena buat mereka, ngebela tanah adat itu bukan cuma soal property, melainkan soal ngejaga harga diri, sejarah, dan jati diri masyarakat Melayu biar nggak faded ditelan zaman. Respect! ✊️

Pos terkait