Ranjau Aspal Pekanbaru Kembali Memakan Korban: Selamat Jalan, Aliza

Tuah Sejawat.com – PEKANBARU – Slogan “Pekanbaru Kota Bertuah” hari ini terasa getir bagi keluarga besar Universitas Riau. Sebuah tragedi memilukan kembali terjadi di jalan raya, merenggut nyawa seorang mahasiswi bernama Aliza di Bundaran Siak 2, arah SM Amin, sekitar pukul 08.00 WIB pagi tadi.

Pagi itu dimulai seperti biasa. Aliza sempat menghubungi rekannya sesama mahasiswa melalui telepon seluler sebelum memacu sepeda motornya menuju kampus. Ada rona keterburuan dalam suaranya.

Bacaan Lainnya

“Jadwal kuliah kami jam 07.30 WIB. Memang biasanya dosen baru masuk kelas jam 08.00 WIB, tapi mungkin dia merasa sudah sangat terlambat,” kenang salah satu temannya. Komunikasi singkat itu kini menjadi kenangan terakhir yang menyesakkan dada. Aliza, yang sudah terbiasa melewati rute tersebut, tidak pernah menduga bahwa perjalanan rutinnya akan berakhir tragis hanya beberapa kilometer sebelum sampai di tujuan.

Saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan bahwa kecelakaan bermula saat kendaraan korban menghantam lubang jalan yang cukup dalam di area bundaran. Hantaman keras tersebut membuat Aliza kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Nahas, di saat yang bersamaan, sebuah truk tronton tengah melintas. Ruang yang sempit dan momentum yang cepat membuat kecelakaan tak terelakkan; korban diduga terlindas ban alat berat tersebut dan meninggal dunia di tempat.

Kematian Aliza bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan lalu lintas. Ini adalah potret nyata dari kelalaian pemeliharaan infrastruktur di Kota Pekanbaru. Bundaran Siak 2 sudah lama dikenal sebagai jalur “tengkorak” bagi pengendara motor karena harus berbagi ruang dengan truk-truk raksasa di atas aspal yang rusak parah.

Kritik pedas dari Maulana Sembiring layak dilayangkan kepada otoritas terkait. Sampai kapan lubang-lubang maut ini dibiarkan menganga tanpa perbaikan yang serius? Jalanan yang berlubang di jalur padat kendaraan berat adalah kombinasi mematikan yang tidak seharusnya ditoleransi. Masyarakat seringkali dipaksa bertaruh nyawa setiap hari hanya untuk berangkat menuntut ilmu atau bekerja.

Tragedi ini merupakan alarm keras bagi Pemerintah Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru. Jangan tunggu ada Aliza-Aliza lain yang masa depannya terhenti secara paksa hanya karena satu lubang yang tak kunjung ditambal. Nyawa manusia tidak bisa digantikan dengan aspal, namun aspal yang baik bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Istirahatlah dengan tenang, Aliza. Semoga keadilan bagi para pengguna jalan segera terwujud.

Pos terkait